As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

17 November 2016

Saleh Ritual Saleh Sosial

Judul Buku     : Saleh Ritual Saleh Sosial
Penulis            : K.H. A. Mustofa Bisri
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : I, Mei 2016
Tebal               : 204 halaman
ISBN              : 978-602-279-203-1

Dalam Islam kesalehan ritual dan kesalehan sosial merupakan satu kesatuan ibadah yang terpadu, tidak bisa dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial, dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu, atau sebaliknya, hanya mementingkan ibadah ritual atau kesalehan individu, dan melupakan kesalehan sosial. Kesalehan individu atau ritual identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah swt.Sementara ibadah sosial identik dengan hubungan seseorang dengan sesama manusia, dan sekaligus hubungan manusia dengan Allah. Ibadah sosial lebih mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditunjukan kepada individu tetapi harus berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata, termasuk dalam ibadah puasa yang sedang dijalankan kaum muslimin. Puasa bukan sekedar kewajiban tahunan yang diperintahkan Allah bagi orang-orang beriman agar mereka menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa memiliki implikasi terhadap individu maupun sosial. Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Merupakan media pengabdian dan sarana ibadah untuk meningkatkan kualitas diri. Merupakan wahana penyucian diri, pembinaan moral, dan penambahan kualitas spiritual manusia. Karena selama berpuasa kaum muslimin dituntut untuk menjaga diri dari segala macam perbuatan yang dapat menodai kesucian jiwa raga dan melemahkan kekuatan moral spritualnya.

Oleh karena itu, dalam salah satu esai yang terkumpul dalam buku ini,K.H. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, penulis buku ini,menandaskan bahwa bulan puasa adalah momentum terbaik untuk mengoreksi diri. Pada bulan penuh berkah tersebut, suasana di luar dan terutama di dalam batin kita rasanya sangat mendukung untuk peningkatan mutu keimanan, keberagamaan, dan kemanusiaan kita. Pada saat seperti itu, kita memiliki peluang sangat baik untuk membuat jarak dengan diri sendiri, lalu mengadakan dialog yang sangat pribadi. Kita dapat melakukan koreksi agak lebih detail adn lebih teliti bagi peningkatan kualitas kekhalifahan dan sekaligus kehambaan kita. Tanpa membuat jarak terhadap diri sulit rasanya melakukan penilaian-penilaian yang mendekati obyektif (hal.13).

Dengan begitu tujuan ibadah puasa tercapai, yakni untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Dan, seorang baru dikatakan bertaqwa bila dirinya telah memantulkan kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual tercermin dari perilaku keseharian kita, yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya.

Sehubungan dengan itu, kiranya kisah Kiai Basuni Rembang yang diangkat Gus Mus dalam buku ini bisa menjadi cermin.Kiai Basuni kenal siapa saja dan dikenal oleh siapa saja, karena hobinya menyapa orang. Kehidupan sehari-harinya dimulai dengan shalat Subuh, lalu jalan-jalan. Disinggahi rumah-rumah famili dan kenalannya, sekedar menengok dan menanyakan keselamatan dan kesehatan mereka. Lalu ke rumah sakit, menyusuri los-los. Ini dilakukan tiap hari, sehingga hampir tidak ada sanak famili dan kenalan, yang sakit yang tidak diketahuinya, untuk ditengok dan diinformasikan pada yang lain. Belaiu berprinsip, kalau bisa, senangkanlah orang lain. Kalau tidak, sebis-bisa jangan menyusahkan orang. (hal.91-93).

Dari kisah Kiai Basuni kita bisa menarik hikmah bahwa seorang yang telah mampu menyatukan kesalehan ritual dan sosial dalam satu tarikan nafas, hati dan dirinya selalu diliputi rasa cinta kepada sesama, dan sebagai imbalanya semua orang pun akan mencintainya. Sementara menurut sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Abu Hurairah yang dinukil dalam buku ini dijelaskan bahwa ketika warga bumi telah mencintai seseorang, maka warga langit pun akan ikut mencintai, begitu pula sebaliknya. (hal.57).

Agaknya dicintai warga langit inilah motif yang mulai lekang dan usang dari hati kita sekarang. Sehingga kita sulit peduli dan empati bahkan pada penderitaan saudara-saudara yang ada di depan hidung kita sendiri. Oleh karena itu, ibadah puasa layak kita jadikan kawah candradimuka untuk “menggodok” diri kita agar menjadi insan yang bertaqwa, yang darinya memancar kesalehan ritual sekaligus sosial.

08 November 2016

Aku hanya orang bodoh

"Bicara Pada Cermin"
Saat hati yg disentuhnya, saat iman jadi landasannya, saat Aqidah jadi alasan.
Saat kedangkalan ilmu dideritanya, saat emosi/amarah/berbalut nafsu memaksakan kehendak menguasai seluruh degup jantung dan aliran darahnya.
........
Siapa yg tak takjub dibuatnya, siapa yg tak tersentuh hatinya, siapa yg tak gemetar tangannya..
Ingin segera menghunus pedang dari sarungnya...
........
Tapi aku lupa...
Aku hanya org awam yg tak tau apa2..
Aku yg begitu gampang terpengaruh oleh informasi yg tertangkap oleh mata dan telinga tanpa mendengar pendapat bijak orang lain.
Aku yg sudah terlanjur mendidih darah ini untuk membelanya...
........
"Fitnah" berupa status/berita penuh provokasi silih berganti menghiasi dinding berandaku yg bodoh ini.
........
Al-Faqir ini tak begitu dalam mengkaji sastra, dan tak begitu mengerti tentang tafsir. Ulum al-qur'an, asbab nuzul, ayat muhkamat atau mutasabihat, dsb.
Apalagi mantiq, balaghah, sebgai syarat mutlak untuk menafsirkan ayat, sungguh begitu miskin diri ini tentang ilmu trsebut.
Aku juga bukan termasuk org yg tsiqah, bukan juga org yg Dhabt.
Aku yg bodoh ini tak begitu banyak menghafal hadits, juga tak begitu mengerti tentang asbabul wurud, jarh wa ta'dil, takhrij hadits, nasakh mansukh, dsb.
........
Ilmu yg ku kaji hanya sebatas ibadah, tauhid, tak sampai ke ranah hukum. Hanya bermodal kitab tadzhib, dan bulughul maram yg tak khatam. Tafsir jalalain, ikhya' ulum al-din, bidayatul hidayah, mukasyafah al-qulb yg tak khatam. Muhtarul Khadits, Al-Hikam, Taqrib, arbain nawawi, riyadus shalihin, Jawahirul bukhari yg juga tak khatam.
........
Aku juga tak begitu pandai berbahasa arab, aku yg hanya mampu memberikan makna setiap kata yg di sampaikan Guru, Ustadz dan Kiai yg mengampunya saat di pesantren.
........
Aku bukan org yg suci yg mampu memfatwakan sesat org lain. Aku juga bukan org yg piawai mengkaji sejarah islam, Umayah, abasiyah, sirah nabawiyah, sejarah islam nusantara. Dsb
Aku juga bukan org yg mengerti siasyah, politik sehingga aku begitu lugu dan begitu mudah terperalat oleh kepentingan mereka.
Begitu mudah terbawa isu hanya dgn membaca satu atau dua postingan provokatif.
.........
Aku juga tak begitu mengerti tentang informasi online, mana yg terpercaya, mana yg hoax, mana yg cari rating, mana yg hanya cari popularitas, mana yg bersponsor, mana yg menuai dolar, mana yg tidak. Aku begitu bodoh tentang media online.
.........
Tapi InsyaAllah aku Bukan Orang Gegabah yg selalu nge-SHARE setiap postingan org yg tak kukenal dan tak ku ketahui kredibelitasnya.
#lindungi hamba dari "fitnah" akhir zaman.
*fitnah dgn pengertian yg sebenar-benarnya.

10 September 2016

Kewajiban Belajar Mengajar dalam Perspektif al-Qur'an Surat al-'Alaq Ayat 1 - 5

Kewajiban belajar mengajar merupakan suatu tuntutan bagi manusia yang menginginkan suatu kehidupan yang layak sebagai implementasinya dalam memakmurkan dunia. Manusia yang sudah dibaiat oleh Tuhan sebagai khalifah agar senantiasa menjadi pemimpin dan bisa menjadi kemaslahatan bagi dirinya, orang lain dan alam sekitar. Dalam realitasnya, konsep belajar mengajar memang banyak mengambil dari konsep Barat. Dan tidak ada salahnya selama konsep tersebut baik dan bisa mengangkat harkat dan martabat manusia. Namun, alangkah lebih bijak ketika kita juga tahu bagaimana pandangan al-Qur'an tentang hal tersebut. Dan banyak ayat-ayat dalam al-Qur'an yang bisa kita jadikan landasan dalam praktek mengajar mengajar. Di antaranya adalah dalam wahyu yang pertama diturunkan yakni Surat al-'Alaq.

Dasar falsafah:
Teks Ayat:
اقرا با سم ربك الدي خلق
خلق الانسان من علق
  اقلرا وربك الاكرم
  الدي علم بالقلم
علم الانسان ما لم يعلم
 
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mu Yang Maha Mulia, yang telah mengajarkan dengan al-Qalam. Yang telah mengajarkan manusia sesuatu yang belum ia ketahui"

Analisis Kebahasaan 
Huruf "ba" pada kalimat "Bismi rabbik" adalah harfu jarr yang memiliki dua artikulasi. Yang pertama sebagai tambahan (zaidah) yang terjemahannya sama dengan tanpa "ba". Iqra' bismi rabbika terjemahannya adalah bacalah nama Tuhan-mu. Tampaknya, jika konsep ini yang diikuti, ada beberapa keberatan ilmiah. Apabila yang dimaksud objek bacaan adalah nama Tuhan, tentu saja tidak dapat diterima. Karena, pertama Rasulullah Saw adalah seorang yang hatinya tak pernah berhenti mengingat nama Allah. Kedua, beliau tidak akan menjawab "maa anaa biqarii" ketika pertama kali beliau menerima wahyu di Gua Hira. Ketiga, jika "ba"-nya zaidah sebagai huruf penambah, maka terjadi Tadlyi al-ba (penyia-nyiaan huruf "ba" tanpa makna).
Pendapat kedua menyatakan bahwa objek yang harus dibaca oleh Rasulullah itu al-Qur'an. Karena membaca dalam term al-Qira'ah dalam al-Qur'an selalu digunakan untuk membaca al-Qur'an itu sendiri. Di sisi lain, ada suatu kaidah yang menyatakan bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan objeknya, maka arti kata tersebut dan objeknya bersifat umum, meliputi segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Maka, dari sini dapat disimpulkan bahwa 
[1] al-Qira'ah tidak berarti hanya membaca, melainkan termasuk ke dalam arti menyampaikan, menelaah, dan sebagainya.
[2] Objek dari kata tersebut mencakup segala yang dapat dijangkau, baik berupa bacaan suci yang bersumber dari Tuhan, maupun bukan bacaan suci, baik ayat-ayat quraniyyat maupun ayat-ayat kauniyyat.
Perintah membaca, menelaah, menyampaikan, meneliti dan sebagainya, dikaitkan dengan keharusan menyebut nama Tuhan (Bismi rabbika). Pengertian ini merupakan syarat mutlak sehingga menuntut si pembaca bukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain dapat memilih bacaan-bacaan yang tidak mengantarkannya kepada hal-hal yang tidak bertentangan dengan nama Allah itu. Mengapa harus dengan kata Rabb, dan tidak dengan kata Allah yang merupakan esensi Tuhan sebagaimana dalam Basmalah. Padahal kata Allah lebih Agung dan lebih Mulia? Karena, pertama, ayat ini merupakan ayat perintah beribadah dan penggunaan kata Rabb yang sesungguhnya adalah perbuatan Tuhan, akan lebih mendorong jiwa si penerima perintah untuk melaksanakannya. Kedua, karena surat ini merupakan surat yang pertama kali diterima oleh Nabi, maka penggunaan kata Rabb dimaksudkan agar Nabi tidak merasa kaget.
Perintah membaca dalam surat ini terulang dua kali, yaitu pada ayat pertama dan pada ayat ketiga. Telah dikemukakan, bahwa perintah membaca pada ayat pertama berkaitan dengan syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang ketika membaca. Maka perintah membaca pada ayat ketiga berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dari hasil bacaan tersebut. Hal ini dapat dipahami dari ayat selanjutnya (keempat) bahwa dari kerja membaca itu seseorang akan memperoleh ilmu pengetahuan.
"'Allama bil Qalam", yang dimaksud al-Qalam. Menurut sebagian ulama Tafsir, adalah "al-Kitabah", dan penggunaan kata tersebut sebagai kinayah. Tetapi, menurut kebanyakan Mufassirin Kontemporer, al-Qalam adalah segala macam alat tulis menulis dari mulai yang sederhana sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih, dan ia bukan merupakan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.
Tafsir Ijmaly  
Perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia sebagai homo educandum. Pengaitan kata "'Allama" dengan kata "al-Insan" pada ayat kelima, menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang harus dididik dan dapat dididik yang antara lain dengan cara membaca. Dan pendidikan adalah jalan yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Hal ini juga secara korelatif dapat dipahami dari penggalan ayat "khalaqa min 'alaq" dan "'allama bil Qalam". Kedua penggalan ayat tersebut mengisyaratkan bahwa meski manusia diciptakan dari setetes air mani yang sangat hina, jika ia belajar dan berpikir sampai ia memperoleh ilmu pengetahuan, maka ia akan menempati derajat yang tinggi, sebagaimana juga dijelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat 11.
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu 'berlapang lapanglah dalam Majlis' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan diantara kamu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.58:11)
Oleh karena itu, kiranya benar orang yang mengatakan, bahwa:
Sejarah umat manusia, secara umum dapat dibagi dalam dua fase utama. Yaitu fase sebelum penemuan alat tulis baca dan fase sesudahnya, sekitar lima ribu tahun yang lalu dengan telah ditemukannya tulis baca, peradaban umat manusia berjalan sangat pesat dan cepat. Peradaban yang lahir pasca ditemukannya tulis baca tidak lagi dimulai dari nol. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh yang lalu dan dapat dibaca oleh yang datang kemudian.
Semoga bermanfaat.

05 September 2016

Lima Pesan Ibrahim bin Adham

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu." Orang itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun."
Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?".
Orang itu lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!"
Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah." Pendosa itu kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua." Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?".
"Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru."
Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah." Orang itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?" Ibrahim bin Adham menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?".
Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, "Katakanlah yang keempat, Tuan guru."
Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut." Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?" Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat?Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?".
Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima."
Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu." Pemuda itupun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?" pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya."
Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.
Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.

03 September 2016

Pesan Imam Syafi'i terhadap penuntut ilmu

Nama Imam Syafi’i rohimahulloh tak asing lagi di telinga kaum muslimin. Bahkan kebanyakan kaum muslimin di negeri ini menisbatkan dirinya kepada madzhab beliau rohimahulloh.
Untuk itulah, perlu kiranya kita mengetahui bagaimana Imam Syafi’i ini mewajibkan para penuntut ilmu agar kembali merujuk kepada dalil-dalil syar’i dalam mempelajari ilmu syar’i.
Mutiara Emas Imam Syafi’i.
Imam Syafi’i rohimahulloh telah membuat perumpamaan bagi penuntut ilmu syar’i yang tidak berdasarkan hujjah. Beliau berkata:
مَثَلُ الَّذِيْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ بِلاَ حُجَّةٍ كَمَثَلِ حَاطِبِ لَيْلٍ، يَحْمِلُ حُزْمَةَ حَطَبٍ وَفِيْهِ أَفْعَى تَلْدَغُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِيْ.
“Perumpamaan orang yang mencari ilmu tanpa hujjah adalah seperti orang yang mencari kayu bakar pada malam hari, ia membawa seikat kayu, di mana di dalamnya terdapat ular yang siap mematuknya, sedangkan dia tidak mengetahuinya.” (Manaqib Syafi’i, karya al-Baihaqi, jilid 2, hal. 143; al-Madkhol, karya beliau juga, no. 262, hal. 211; Hilyah al-Auliya`, jilid IX, hal. 125; Adab asy-Syafi’i, karya Abu Hatim, hal. 100; Tawaali at-Ta`siis, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 135)
Dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa beliau rohimahulloh menganjurkan para penuntut ilmu ketika menuntut ilmu harus berdasarkan kepada hujjah yang berasal dari al-Qur`an dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Apabila seseorang mempelajari ilmu agama, akan tetapi tidak merujuk kepada sumbernya yang asli, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka bisa saja ia akan mendapatkan masalah-masalah yang disangka termasuk agama, padahal bukan, sehingga akibatnya dapat terjatuh ke dalam penyimpangan.
Makna Ilmu
Para ulama telah menjelaskan bahwa kata ilmu apabila disebutkan secara mutlak dalam al-Qur`an, as-Sunnah, dan ungkapan para ulama adalah ilmu syar’i.
Imam Syafi’i rohimahulloh sendiri telah menyatakan:
كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ
إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَعِلْمَ الْفِقْهِ فِي الدِّيْنِ
الْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا
وَمَا سِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيْطَانِ
Setiap ilmu selain al-Qur`an adalah kesibukan,
Kecuali al-Hadits dan ilmu tentang pemahaman agama.
Ilmu itu apa yang padanya mengandung “ungkapan telah menyampaikan kepada kami” (sanad).
Sedangkan selain itu, adalah bisikan-bisikan setan.
(Diwan Imam Syafi’i, hal. 30, Darul Manar)
Selain beliau, Syaikh Bin Bazz telah menyatakan, “Sesungguhnya (kata) ilmu itu dilontarkan untuk banyak hal, akan tetapi menurut para ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Inilah yang dimaksud dalam Kitabulloh dan Sunnah RosulNya shollallohu ‘alaihi wa sallam secara mutlak, yaitu ilmu tentang Alloh, Asma’-Nya, SifatNya, ilmu tentang hakNya atas hambaNya dan tentang segala sesuatu yang disyariatkan untuk mereka oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.“ (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah, jilid 23, hal. 297)
Dalam muqoddimah Kitab al-‘Ilm, Syaikh ‘Utsaimin juga menjelaskan, “Yang kami maksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. yaitu ilmu yang diturunkan oleh Alloh kepada RosulNya yang berupa bukti-bukti yang nyata dan petunjuk. Jadi ilmu yang mengandung pujian adalah ilmu wahyu.” (Kitab al-’Ilm, hal. 7)
Dengan demikian, yang dimaksud dengan ilmu oleh Imam Syafi’i adalah ilmu syar’i.
Harus Berdasarkan Hujjah.
Hujjah adalah dasar dan landasan yang dijadikan sebagai penguat ilmu syariat tersebut.
Dalam ar-Risalah, beliau menyatakan:
فَكُلُّ مَا أَنْزَلَ فِيْ كِتَابِهِ – جَلَّ ثَنَاؤُهُ – رَحْمَةٌ وَحُجَّةٌ، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ.
“Semua yang diturunkan (oleh Alloh) dalam kitabNya Jalla Tsanaa`uhu adalah rahmat dan hujjah. Orang yang mengetahuinya akan mengetahuinya, orang yang tidak mengetahuinya juga tidak akan mengetahuinya.” (Ar-Risalah, no. 43, hal. 19, tahqiq (diteliti) Syaikh Ahmad Syakir.)
Al-Muzani atau ar-Robi’ pernah menceritakan, “Kami pada suatu hari pernah berada di sisi Imam Syafi’i. Tiba-tiba ada seorang syaikh yang memakai pakaian dari shuf (wol), sedangkan di tangannya terdapat tongkat. Lalu asy-Syafi’i bangkit dan merapikan pakaiannya dan syaikh itu memberi salam kepada beliau lalu duduk. Syafi’i melihat syaikh tersebut dengan keadaan segan kepadanya.
Syaikh itu berkata, “Apakah aku boleh bertanya kepadamu?”
Syafi’i menjawab, “Bertanyalah!”
Orang itu berkata, “Apakah hujjah dalam agama Alloh?”
Asy-Syafi’i menjawab, “Kitabulloh.”
Syaikh itu bertanya, “Apa lagi?”
Asy-Syafi’i menjawab, “Ittifaq ummat”. (Siyar A’laam an-Nubala`: X/83-84 dan Miftah al-Jannah, karya as-Suyuti , no. 159, hal. 85-86)
Dalam sebuah atsar dari Imam Syafi’i yang lainnya adalah:
مَنْ تَعَلمََّ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيْمَتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْفِقْهِ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي اللُّغَةِ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْحِسَابِ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ، لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ.
“Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka kedudukannya menjadi agung, barangsiapa yang belajar fiqih maka kehormatannya menjadi mulia, barangsiapa yang menulis Hadits maka hujjahnya menjadi kuat, barangsiapa yang belajar bahasa maka tabiatnya menjadi lembut, barangsiapa yang belajar berhitung maka pendapatnya menjadi kuat, barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat kepadanya.” (Tawaali at-Ta`siis bi Ma’ali Ibnu Idris, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 136)
Salah satu ungkapan beliau tersebut adalah “barangsiapa yang menulis Hadits, maka hujjahnya menjadi kuat”. Ini berarti bahwa salah satu hujjah yang dijadikan dasar dan landasan dalam agama adalah Hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Dengan demikian, di antara hujjah yang dapat dijadikan sebagai landasan ilmu agama adalah al-Qur`an dan Hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
إِنِِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan di antara kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnah NabiNya.” (HR. Hakim I/71, no. 319. Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 40, I/125.)
Maka kunci untuk dapat selamat dari kesesatan adalah dengan berpegang kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Ular yang Tersembunyipun Dapat Menggigitnya.
Dalam wasiat tersebut, Imam Syafi’i menjelaskan tentang resiko dan bahaya yang akan menimpa seorang penuntut ilmu apabila tidak berdasarkan kepada hujjah dalam mempelajari ilmu yaitu akan tersesat tanpa disadarinya.
Semoga Alloh merahmati beliau. Apabila seseorang mempelajari ilmu syariat tanpa dasar al-Qur`an dan Hadits yang shohih, maka akhirnya adalah berupa penyimpangan, kekeliruan dan kesesatan. Di antara contohnya adalah:
1. Menyangka tauhid, padahal syirik.
Apabila tidak berdasarkan dalil dari Kitabulloh atau Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menetapkan aqidah tauhidulloh, maka bisa saja meyakini bahwa suatu masalah adalah tauhid, padahal itu adalah kesyirikan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, sedangkan Alloh telah berfirman:
٤٨. إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa`: 48)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang bahayanya dalam Hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ الرحْمَنِ بْنِ أَبِيْ بَكْرَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : قَالَ النِبي – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ : ((أَلاَ أُنَبِئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟))، ثَلاَثًا. قَالُوْا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : ((اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ)) .
Dari ‘Abdurrohman bin Abi Bakroh, dari bapaknya ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Ya, wahai Rosululloh!” Beliau berkata, “Menyekutukan Alloh dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhori, no. 2564 dan Muslim, no. 87)
Demikian juga tentang para malaikat, kitab-kitabNya, keterangan tentang para Nabi dan Rosul, hari akhir, qodho` dan qodar, serta masalah-masalah aqidah yang lainnya. Dimungkinkan seorang penuntut ilmu –yang tidak meruju’ kepada dalil syar’i- meyakini suatu keyakinan yang bertentangan dengan dalil-dalil yang shohih yang ada.
2. Mengira sunnah, padahal bid’ah.
Apabila mempelajari perkara-perkara yang disyariatkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam akan tetapi tidak kembali kepada al-Qur`an dan Hadits yang shohih dari beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi hanya perpegang kepada pendapat Imam Fulan dan Imam Fulan saja, maka bisa saja seseorang terjatuh dalam kebid’ahan, akan tetapi disangka termasuk sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau telah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara kami ini (yaitu perkara agama) apa yang tidak termasuk bagian darinya, maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhori, no. 2697 dan Muslim, 1718, sedangkan ini lafal al-Bukhori.)
Apabila keadaannya demikian, maka kerugianlah yang akan didapati.
3. Terjatuh ke dalam taklid yang terlarang.
Tatkala seorang penuntut ilmu mengikuti suatu pendapat di antara pendapat-pendapat ulama, akan tetapi tidak mengetahui dalil yang dijadikan sebagai landasannya, maka telah terjatuh ke dalam taklid yang terlarang.
Alloh telah berfirman:
٦٦. يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
٦٧. وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
٦٨. رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيراً
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Alloh dan taat (pula) kepada Rosul.” Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS. al-Ahzab: 66-68)
Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i menjelaskan bahwa Thowus berkata:
سَادَتَنَا يَعْنِي اْلأَشْرَافَ، وَكُبَرَاءَنَا يَعْنِي الْعُلَمَاءَ.
“Pemuka-pemuka kami yaitu orang-orang mulia di antara kami, dan pembesar-pembesar kami yaitu para ulama.”
Kemudian beliau mengomentari atsar tersebut, “Maksudnya adalah kami telah mengikuti para pemuka yaitu para pemimpin dan orang-orang besar dari kalangan para syaikh dan kami telah menyelisihi para Rosul. Kami dahulu telah berkeyakinan bahwa mereka memiliki sesuatu (kebenaran, pen.) dan mereka di atas sesuatu (kebenaran, pen.), ternyata mereka tidak berada di atas sesuatu (kebenaran, pen.).” (Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim, jilid 11, hal. 245, di-tahqiq (diteliti) oleh beberapa pen-tahqiq.)
Al-Hajjaj bin Amr dahulu apabila bertemu, berkata, “Wahai sekalian orang Anshor, apakah kalian ingin mengatakan kepada Robb apabila kita menghadapNya, “Ya Robb, sesungguhnya kami dahulu telah mengikuti para pemuka dan pembesar kami, maka merekapun menyesatkan kami. Ya Robb kami, berikanlah kepada mereka dua kali lipat adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”” (Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim, hal. 246)
Selain itu, Imam Syafi’i juga telah melarang bertaklid kepada beliau dalam mutiaranya:
كُلُ مَا قُلْتُ – فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم خِلاَفُ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِح – فَحَدِيْثُ النَّبِيِّ أَوْلَى، فَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ.
“Segala perkataanku, apabila apa yang shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menyelisihi perkataanku, maka Hadits Nabi itulah yang lebih pantas untuk diikuti. Janganlah kalian bertaklid kepadaku.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir dan sanadnya dishohihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Shifat ash-Sholah, hal. 52.)
4. Menyangka suatu amalan mengandung keutamaan, padahal terdapat penyimpangan.
Tatkala dalil syar’i ditinggalkan dalam mempelajari ilmu syar’i, maka seseorang akan memperhatikan dan mengagungkan suatu amalan yang disangka mengandung keutamaan, padahal amalan tersebut menyimpang.
Imam Nawawi telah menyatakan:
لَيْسَ يَكْفِيْ فِي الْعِبَادَاتِ صُوَرُ الطَّاعَاتِ، بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ كَوْنِهَا عَلَى وِفْقِ الْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّاتِ.
“Dalam melakukan ibadah-ibadah, tidaklah cukup hanya dengan bentuk-bentuk ketaatan, akan tetapi harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariat.” (Muqoddimah al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1, hal. 3, tahqiq Dr. Mahmud Mathroji, Darul Fikr, cet. 1, 1417 H, Beirut)
5. Apabila mendakwahkan kesesatan, maka akan menyesatkan.
Apabila perkara-perkara yang termasuk syirik, atau kekufuran atau kebid’ahan atau penyimpangan-penyimpangan syariat disampaikan kepada orang lain, maka orang yang menyampaikan ilmu syar’i tanpa dalil tersebut akan menjadi penyesat bagi orang lain.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّلاَءَ، فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا.
“Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu itu dengan mencabutnya dari hamba-hambaNya, akan tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai apabila tidak tersisa satu orang alimpun, maka manusia akan mengangkat para pemimpin atau penguasa yang jahil (bodoh-bodoh), lalu mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa didasari dengan ilmu, maka merekapun tersesat dan menyesatkan (orang lain).” (HR. Bukhori, no. 100, 7308 dan Muslim, no. 2673)
Al-Hafidh Ibnu Hajar asy-Syafi’i mengatakan, “Dalam Hadits ini terdapat (penjelasan) bahwa berfatwa adalah kepemimpinan yang hakiki dan celaan bagi yang melakukannya tanpa ilmu.” (Fath al-Bari, I/258 Darus Salam, Riyadh, cet. 1, 1421/2000M)