As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

29 November 2017

Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah

A. Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah

Dinasti bani Umayyah merupakan pemerintahan kaum Muslimin yang berkembang setelah masa Khulafa al-Rasyidin yang dimulai pada tahun 41 H/661 M.1 Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Nama Dinasti Umayyah dinisbahkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf. Silsilah keturunan Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Abdi Manaf. Keturunan Nabi dipanggil dengan keluarga Hasyim (Bani Hasyim), sedangkan keturunan Umayyah disebut dengan keluarga Umayyah (Bani Umayyah). Oleh karena itu, Muawiyah dinyatakan sebagai pembangun Dinasti Umayyah.
Muawiyah selain sebagai pendiri juga sebagai khalifah pertama Bani Umayyah. Muawiyah dipandang sebagai pembangun dinasti ini, oleh sebagian sejarawan dipandang negatif sebab keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalm perang saudara di Shiffin. Terlepas dari itu dalam diri muawiyah terkumpul sisifat-sifat sorang penguasa, politikus, dan administrator.2
Keberhasilan Muawiyah mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya kemenangan diplomasi dalam peran Shiffin dan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib melainkan sejak semula Muawiyah memiliki “basis rasional” yang solid sebagai landasan pembangunan masa depan. Selain itu ia mendapatkan dukungan yang kuat dari Suriah dan keluarga Bani Umayyah, ia merupakan seorang administrator yang sangat bijaksana dalam menempatkan para pejabat-pejabatnya serta ia memiliki kemampuan yang menonjol sebagai negarawan sejati.3

B. Khalifah-Khalifah Bani Umayyah dan Kebijakan-Kebijakannya
Masa Kekuasaan Dinasti Umayyah berlangsung kurang lebih 90 tahun dengan 14 Khalifah.4 Dari ke- 14 khalifah yang ada, terdapat beberapa khalifah yang berjasa dalam berbagai bidang dan ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Berikut Ini urutan Khalifah Bani Umayyah beserta kebijakannya:
1.  Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H/661-679 M)
Pengalaman politik Muawiyah bin Abi Sufyan telah memperkaya dirinya dengan kebijakan-kebijakan dalam memerintah, mualai dari menjadi salah seorang pemimpin pasukan di bawah komando Panglima Abu Ubaidillah din Jarrah yang berhasil merebut wilayah Palestin, Suriah dan Mesir dari tangan Imperium romawi. Kemudian Muawiyah menjabat sebagai kepala wilayah di Syam yang membawahi Suriah dan Palestina. Khalifah Utsman menobatkannya sebagai “Amir Al-Bahr” yang memimpin penyerbuan ke kota Konstantinopel meski belum berhasil.5
Kebijakan-kebijakannya:

a. Mengubah sistem pemerintahan dari demokratis menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), sistem pemerintahan ini diadopsi dari Persia dan Bizantium. Langkah awal yang diambil dalam menggunakan sistem pemerintahan tersebut yakni dengan mengangkat Yazid putranya sebagai putra mahkota.6
b. Memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus.7
c. Menarik pasukan pengepung Konstantinopel8
d. Mendirikan departemen Pencatatan (Diwanul Khatam)9
e. Mendirikan pelayanan pos (Diwanul Barid)
f. Memisahkan urusan keuagan dari urusan pemerintahan dengan mengangkat seorang pejabat khusus yang diberi gelar sahibul kharaj.
g. Mendirikan Kantor Cap (Pencetakan mata uang).10

Muawiyah wafat pada tahun 60 H di Damaskus karena sakit setelah ia menjadi khalifah kurang lebih selama 19 tahun. Dengan telah diangkatnya Yazid bin Muawiyah sebagai putra mahkota maka tampuk kepemimpinan diserahkan kepadanya.
2.  Yazid bin Muawiyah (60-64 H/ 679-683 M)
Pengangkatan Yazid sebagai khalifah diikuti oleh penolakan dari kaum Syiah yang telah membaiat Husin bin Ali di Kufah sebagai khalifah sepeninggal Muawiyah. Penolakan tersebut, mngakibatkan peperangan di Karbala yang menyebabkan terbunuhnya Husain bin Ali. Selain itu Yazid juga menghadapi pemberontakan di Makkah dan Madinah dengan keras. Kaum anshor di Madinah mengangkat Abdullah bin Hanzalah dan kaum Qurais mengangkat Abdullah bin Muti’, dan penduduk Mekkah mengangkat Abdullah bin Zubair sebagai pemimpin tanpa pengakuan terhadap kepemimpinan Yazid. Yazid wafat pada tahun 64 H setelah memerintah selama 4 tahun. 11 Pada masa ini pemerintahan Islam tidak banyak berkembang diakibatkan pemerintah disibukkan dengan pemberontakan dari beberapa pihak.
3.  Muawiyah bin Yazid (64 H/ 683 M)
Muawiyah bin Yazid merupakan putra Yazid bin Muawiyah, dan ia menggantikan tampuk kepemimpinan sepeninggal ayahnya. Namun ia hanya memegang jabatan khalifah hanya dalam beberapa bulan. Ia mengalami tekanan jiwa yang berat karena tidak sanggup memikul tanggung jawab kekhalifahan, selain itu ia harus mengatasi masa kritis dengan banyaknya perselisihan antar suku. Dengan wafatnya Muawiyah bin Yazid maka habislah keturunan Muawiyah.
4.  Marwan bin Hakam (64-65 H/ 683-684 M)
Marwan bin Hakam pada masa Utsman bin Affan, seorang pemegang stempel khalifah, pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan ia adalah gubernur Madinah dan menjadi penasihat pada masa Yazid bin Muawiyah di Damaskus. Muawiyah II tidak menunjuk penggantinya sebagai khalifah kemudian keluarga besar Bani Umayyah menunjuknya sebagai khalifah, sebab ia dianggagp paling depan mengendalikan kekuasaan dengan pengalamannya. Marwah menghadapi segala kesulitan satu persatu kemudian ia dapat menduduki Mesir, Palestina dan Hijaz dan Irak. Namun kepemimpinannya tidak berlangsung lama hanya 1 tahun, sebelum ia wafat menunjuk Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai pengganti sepeninggalnya secara berurutan.12
5.  Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/ 684- 705 M)
Ia merupakan orang kedua yang terbesar dalam deretan para khalifah Bani Umayyah sehingga ia disebut-sebut sebagai “pendiri kedua” bagi kedaulatan Umayyah. Pada masa kepemimpinannya ia mampu mengembalikan sepenuhnya integritas wilayah dan wibawa kekuasan Bani Umayyah dengan dapat ditundukkannya gerakan separatis Abdullah bin Zubair di Hijjaz, pemberontakan kaun Syi’ah dan Khawarij, aksi teror al-Mukhtar bin Ubaid As-Saqafi di Kufah, pemberontakan Mus’ab bin Zubair di Irak, serta Romawi yang menggoncangkan sendi-sendi pemerintahan Umayyah.
Berikut ini beberapa kebijakan yang diambil oleh Abdul Malik selama masa kepemimpinannya:
a. Menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam administrasi di seluruh wilayah bani Umayyah. Arabisasi yang dilakukannya meliputi Arabisasi kantor perpajakan dan kantor keuangan.13
b. Mencetak mata uang secara teratur.14
c. Pengangkatan gubernur dari kalangan Bani Umayyah saja yakni kawan-kawan, kerabat-kerabat dan keturunannya. Bagi para gubernur tersebut tidak diberikan kekuasaan secara mutlak.15
d. Guna memperlancar pemerintahannya ia mendirikan kantor-kantor pos dan membuka jalan-jalan guna kelancaran dalam pengiriman surat.16
e. Membangun beberapa gedung, masjid dan saluran air
f. Bersama dengan al-Hajjaj ia mnyempurnakan tulisan mushaf al-Quran dengan titik pada huruf-huruf tertentu.

6. Al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H/ 705- 714 M)
Setelah wafatnya Abdul Malik bin Marwan, pemerintahan dipimpin oleh Al-Walid bin Abdul Malik, mada masa kekuasaaanya. Kekuasaan Islam melangkah ke Spanyol dibawah kepemimpinan pasukan Thariq bin Ziyad ketika Afrika Utara dipegang oleh gubernur Musa bin Nusair. Karena kekayaan melimpah ruah maka ia menyempurnakan pembangunan-pembangunan gedung-gedung, pabrik-pabrik, dan jalan-jalan dengan sumur. Ia membangun masjid al-Amawi yang diterkenal hingga sekarang di Damaskus, membangun masjid al-Aqsha di Yerussalem, serta memperluas masjid Nabawi di Madinah. Ia juga melakukan penyantunan kepada para yatim piatu, fakir miskin, dan penderita cacat. Ia membangun rumah sakit bagi penderita kusta di Damaskus.
Selain itu, ia memberikan penerangan di Damaskus, memperbaiki jalan-jalan, mendirikan sumur-sumur untuk mengambilan minyak serta ia sangat memperhatikan fakir miskin. 17
7.  Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/714- 717 M)
Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik tidak sebijak kakaknya dalam memimpin, ia sangat mencintai kehidupan dunia dan kegemarannya bersenang-senang, tabiatnya tersebut membuat ia dibenci oleh rakyatnya. Hal ini mengakibatkan para pejabatnya terpecah belah, begitu pula masyarakatnya. Orang-orang yang berjasa pada masa pendahulunya disiksanya, seperti keluarga Hajjaj bin Yusuf dan Muhammad bin Qasim.18
Sulaiman wafat di Dabik di perbatasan Bizentium setelah berkuasa selama 2 tahun. Sebelum wafat ia menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya.19
8.  Umar bin Abdul Aziz (99-101 H)/ 717-719 M)
Umar bin Abdul Aziz disebut-sebut sebagai khalifah ketiga yang besar dalam dinasti Bani Umayyah. Ia seorang yang takwa dan bersih serta adil. Ia banyak menghabiskan waktunya di Madinah dikota dimana ia menjadi gubernur pada masa al-Walid, untuk mendalami ilmu agama Islam, khususnya hadits. Sebelumnya ia merupakan pejabat yang kaya akan ilmu dan harta namun ketika menjadi khalifah ia berubah menjadi orang yang zahid, sederhana, bekerja keras, dan berjuang tanpa henti sampai akhir hayatnya.20 Ia bahkan mengembalikan sebagian besar hartanya berupa tanah dan perhiasan istrinya ke baitul-mal. Umar wafat pada usia 39 tahun setelah berkuasa kurang lebih selama 2 tahun, jasadnya dimakamkan di Dair Simon dekat Hims.21
Berikut ini kebijakan yang diambil selama masa kepemimpinannya:

a. Secara resmi ia memerintahkan mengumpulkan hadits
b. Ia mengadakan perdamaian antara Amamiyah, Syi’ah dan Khawarij.
c. Menaikkan gaji para gubernurnya
d. Memeratakan kemakmuran dengan memberikan santunan kepada fakir miskin.
e.       Memperbarui dinas pos
f.        Menyamakan kedudukan orang non Arab yang dinomorduakan dengan orang-orang Arab. Ia mngurangi pajak dan menghentikan pembeyaran jizyah bagi orang Islam yang baru.

9.  Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/ 719-723 M)

Pada masa kekuasaannya bangkit kembali konflik antara Mudhariyah dengan Yamaniyah. Kaum Khawarij kembali menentang pemerintahan karena mereka menggap Yazid kurang adil dalam memimpin.22 Sikap kepemimpinannya sangat bertolak dengan pola kepemimpinan Umar bin Adul Aziz, ia lebih menyukai berfoya-foya sehingga ia dianggap tidak serius dalam kepemimpinan-nya.23
10. Hisyam bin Abdul Malik (105- 125 H/ 723-742 M)

Setelah kematin Yazid, saudaranya Hiyam bin Abdul Malik naik tahta. Pada saat ia naik tahta. Pada masa kepemimpinannya terjadi perselisihan antara bani Umayyah dengan bani Hasyim. Pemerintahannya yang lunak dan jujur, banyak jasanya dalm pemulihan keamanan dan kemakmuran, tetapi semua kebijakannya tidak dapat membayar kesalahan-kesalahan para pendahulunya. Inilah yang semakin memperlicin kemerosotan dinasti Umayyah.24

Hisyam adalah seorang penyokong kesenian dan sastra yang tekun. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan membuat ia meletakkan perhatian besar kepada pengembangan ilmu pengetahun.

11. Al-Walid bin Yazid (125-126 H/ 742- 743M)
Walid oleh para penulis Arab dilukiskan sebagai orang yang tidak bermoral, pemabuk, dan pelanggar. Pada awal mualanya ia menunjukkan kebaikan-kebaikan kepada fakir miskin dan orang-orang lemah. Namun semua itu digugurkan dengan sifatnya yang pendendam, serta jahat kepada sanak saudaranya. Sikapnya ini semakin mempertajam kemerosotan bani Umayah.

12.  Yazid bin Walid bin Abdul Malik (126 H/743 M)
13.  Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik(126- 127 H/ 743- 744 M)
14.  Marwan bin Muhammad (127-132 H/ 744-750 M)
C. Keberhasilan yang diraih
1.  Wilayah Kekuasaan dan Perpolitikan
     Ekspansi politik Islam yang terhenti pada masa Khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Terutama pada masa Abdul Malik bin Marwan dan Al- Walid bin Abdul Malik. Ekspansi ini terbagi kepada dua aah yakni ke barat yang meliputi wilayah Afrika Utara, Spayol dan Prancis, dan wilayah Timur meliputi Asia Tengah dan India.25
   Ekspansi daulan Bani Umayyah dimulai sejak zaman Muawiyah dengan ditaklukkannya Tunisia. Di sebelah timur Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai Oxus dan Afganistan sampai Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel.
      Abdul Malik bin Marwan melanjutkan ekspansi ke timur, pasukannya menyebrangi Oxus dan berhasil menaklukan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan ke India dan dapat mengusai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai Maltan.26
   Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjudkan oleh al-Walid bin Abdul Malik, pada masanya tercatat bahwa ekpedisi militer dari Afrika Utara menuju barat daya benua Eropa. Setelah ditundukkannya al-Jazair dan Marokko. Thariq bin Ziyad membuka jalan ekspansi ke Spanyol, dengan cepat ibukota Spanyol, Cordova dengan cepat dikuasai dan diteruskan ke beberapa wilayah disekitarnya meliputi Seville, Grenada, Elvira, Arkhidona, Malaga, dan Toledo.27
   Berikutnya di zaman Umar bin Abdul Aziz, ekspansi dilanjutkan ke Prancis melalui pegunungan Pinaree. Penyerangan ke wilayah Bordean, Poities dipimpin oleh Abd Rahman bin Abdullah al-Ghafiqi, yang kemudian terbunuh dalam menyerang Tours, sehingga pasukannya ditarik kembali ke Spanyol. Di samping daerah-daerah tersebut umat Islam telah menaklukkan beberapa pulau yang ada di Laut Tengah, di antaranya Majorca, Corsica, Crete, Rhodes dan sebagian Sicilia.28 Dengan demikian maka meluaslah wilayah kekuasaan Islam yang meliputi Spayol, Afika Utara, Syriah, Palestim, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, dan daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.29
    Di samping keberhasilan tersebut Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang, dalam bidang politik, bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi tuntutn perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin komplek. Selain mengangkat majelis Penesihat sebagai pendamping, Khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa sekretaris yakni: 
Katib ar-Rasail, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat dengan para pembesar setempat.
Katib al-Kharaj, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
Katib al-Jundi, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan segala hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
Katib asy-Syurtah, sekretaris yang bertugas sebagai pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
Katib al-Qudat, sekretaris yang menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hukum setempat.30
2. Perkembangan Keilmuan

Selama periode kekuasaan Dinasti Umayyah, dua kota Hijaz, Makkah dan Madinah, menjadi tempat berkembangnya musik, lagu, dan piusi. Sementara itu, kota kembar di Irak, Basrah dan Kufah berkembang menjadi pusat aktifitas intelektual di dunia Islam.31 Selain itu kota pusat berkumpulnya para pujangga, filsuf, ulama, penyair dan cendekiawan lainnya betempat di Marbad, kota satelit di Damaskus.32 Pada masa dinasti Umayyah ini terdapat beberapa ilmu yang berkembang di antaranya:33
a. Pengembangan Bahasa Arab

Para penguasa dinasti Umayyah memperkuat kepemimpinannya dengan mengembangkan bahasa Arab di seluruh wilayah kerajaan Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat-menyurat harus menggunakan bahasa Arab.
b. Ilmu Qiraat
Ilmu Qiraat adalah ilmu seni baca al-Quran. Ilmu ini merupakan ilmu syariat tertua yang mulai dikembangkan pada masa Khulafa Rasyidin. Pada dinasti ini lahir para ahli qiraat ternama salah satunya Abdullah bin Qusair dan Ashim bin Abi Nujum.
c. Ilmu Tafsir
Salah satu bukti perkembangan ilmu tafsir pasa masa ini yakni dibukukannya ilmu tafsir oleh Mujahid.
d. Ilmu Hadits
Ketika kaum Muaslimin telah berusaha memahami al-Quran mereka juga mengeluti hadits-hadits Rasulullah. Sehingga timbullah usaha untuk mengumpulkan hadits, menelidiki asal-usulnya, hingga akhirnya menjadi satu ilmu yang berdiri sendiri yang dinamakan ilmu hadits. Di antara ahli hadits yang terkenal pada masa ini yakni al-Auzi Abdurrahman bin Amru, Hasan Basri, Ibnu Abu Malikah, Asya’bi Abu Amru Amir bin Syurahbil.
e. Ilmu Fiqh
Pada awal mulanya perkembangan ilmu fiqh didasari pada dibutuhkannya adanya peraturan-peraturan sebagi pedoman dalam menyelesaikan berbagai masalah. Al-Quran dan hasits dijadikan sebagai dasar fiqh Islam. diantara ahli fiqh yang terkenah adalah Sa’ud bin Musib, Abu Bakar bin Abdurahman, Qasim Ubaidillah, Urwah, dan Kharijah.
f. Ilmu Nahwu
Dengan meluasnya wilayah Islam dan didukung dengan adanya upaya Arabisasi maka ilmu tata bahasa Arab sangat dibutuhkan. Sehingga dibukukanlah ilmu nahwu dan menjadi salah satu ilmu yang penting untuk dipelajari. Salah satu tokoh yang legendaris adalah Abu al-Aswad al-Du’ali yang berasal dari Baghdad. Salah satu jasa dari Al-Du’ail adalah menyusun gramatika Arab dengan memberikan titik pada huruf-huruf hijaiyah yang semula tidak ada.
g. Ilmu Geografi dan Tarikh
Geografi dan tarikh pada masa ini telah menjadi cabang ilmu tersendiri. Dalam melalui ilmu tarih mereka mengumpulkan kisah tentang Nabi dan para Sahabatnya yang kemudian dijadikan landasan bagi penulisan buku-buku tentang penaklukan (maghazi) dan biografi (sirah). Munculnya ilmu geografi dipicu oleh berkembangnya dakwah Islam ke daerah-daerah baru yang luas dan jauh
h. Usaha Penterjemahan
Pada masa ini dimulau usaha penterjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain ke dalam bahasa Arab. Ini merupakan rintisan pertama dalam penerjemahan buku yang kemudian dilanjutkan dan berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah. Buku-buku yang diterjemahkan pada masa ini meliputi buku-buku tentang ilmu kimia, ilmu astronomi, ilmu falak, ilmu fisika, ilmu kedokteran, dan lain-lain.

3.  Seni dan Budaya

Pada masa bani Umayah ini berkembang seni Arsitektur terutama setelah ditaklukkananya spanyol oleh Thariq bin Ziyat. Ekspresi seni ini diwujudkan pada bangunan-bangunan masjid yang didirikan mada masa ini. Arsitektur bangunannya memadukan antara budaya Islam dengan budaya sekitar. Bukti perkembangan arsitektur pada masa ini nampak seperti pada Kuba batu Masjidil al-Aqsha yang dikenal dengan Dome or The Rock (Qubah Ash-Shakhra) di Yerusalem, bangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang disempurnakan bangunannya pada masa Umar bin Abdul Aziz, menara-menara yang didirikan oleh al-Walid di Suria dan Hijaz, bangun gereja yang diperbaiki dan diubah fungsinya oleh al-Walid menjadi masjid, serta istana-istana kecil dan rumah-rumah peristiratan pada khalifah dan anak-anaknya.

Selain arsitektur juga berkembang seni rupa dan musik. Seni rupa berupa lukisan yang terlihat pada ukiran dinding bangunan. Para pelukis
disebut dengan mushawwirun. Sedangkan dalam lagu dan nyanyian sebenarnya telah berkembang pada masa pra islam dengan adanya lagu kemenangan, perang, keagamaan dan cinta serta terdapat beberapa alat musik berupa tabur segi empat (duff), seruling (qashabah), suling rumput (zamr). Musisi terkenal pada masa ini salah satunya adalah Said ibn Misjah, Ibn Surayjsab Ibn Muhriz.34

D. Gerakan-Gerakan Keagamaan

Pada masa ini ditemukan adanya cikal bakal gerakan-gerakan filosofif keagamaan yang berusaha menggoyahkan fondasi Islam. Di Bashrah hidup seorang tokoh terkenal bernama Wasail ibn ‘Atha’ seorang pendiri mazhab rasionalisme kondang yang disebut Mu’tazilah. Orang Muktazilah mendakwahkan ajaran bahwa siapapun yang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari barisan orang beriman, tapi tidak pula dijadikan kafir. Wasil sebagai pendiri gerakan ini berguru kepada Hasan al-Bashri, yang cenderung pada doktrin kebebasan berkehendak. Di samping itu dalam doktrinnya ditambahkan: penolakan terhadap kesatuan antara Tuhan dan sifat-sifatnya dengan argumen bahwa konsep tersebut merusak keesaan Tuhan.35

Selain Mu’tazilah gerakan lain yang tumbuh adalah kelompok Khawarij. jika gerakan Mu’tazilah memelopori gerakan radikalisme, kelompok Khawarij menjadi pendukung utama puritanisme Islam. Khawarij merupakan sekte politik keagamaan paling awal muncul. Dalam rangka mempertahankan prinsip demokrasi primitif Islam, kelompok Khawarij telah menumpahkan banyak darah selama tiga abad pertama Islam.36

Kelompok lain yang muncul pada masa Umayyah adalah Murjiah. Orang murjiah tidak menganggap pemaksaan hukum agama oleh khalifah-khalifah Umayyah sebagai alasan yang sah atas penolakan nya sebagai pemimpin politik de facto umat Islam. Secara umum ajaran pokok Murjiah berkisar pada toleransi.37
Kelompok lain yang muncul, yaitu Syi’ah yang merupakan kubu Islam pertama yang berbeda pendapat dalam persoalan kehalifahan. Kelompok Syiah memiliki keyakinan terhadap Ali dan putra-putranya yang di klaim sebagai imam sejati.38
E. Kehancuran Bani Umayyah

Setelah sepeninggal Hisyam bin Abdul Malik, kekhalifahan bani umayyah mengalami kelemahan yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran dinasti ini. Badri Yatim menyebutkan terdapat beberapa faktor yang mejadi sebab runtuhnya kekuasaan dinasti Umayyah, faktor-faktor tersebut diantaranya:

a. Sistem pergantian kekhalifahan melalui garis keturunan adalah suatu yang baru dalam tradisi Arab, pengaturan pergantian kekhalifahan yang tidak jelas menyebabkan persaingan tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.

b. Latar belakang terbentuknya Bani Umayyah yang tidak terlepas dari konflik-konflik politik di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperi di awal dan di akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.

c. Terjadi pertentangan etnis antar suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam semakin meruncing. Perselisishan tersebut mengakibatkan khalifah-khalifah bani

Umayyah kesulitan dalam menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu dologan mawali (non Arab) terutama di Irak dan sekitarnya merasa tidak puas karena status itu mengambarkan suatu inferioritas, ditambah keangkuhan bangsa arab yang diperlihatkan oleh bani umayyah.

d. Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan karena siskap hidup bermewah-mewahan di lingkungan Istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.

e. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd
Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan gologan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dinomorduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.39



1 Moh. Nurhakim, Sejarah & Peradaban Islam (Malang: UMM Press, 2003), 53.
2 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam(Jakarta: AMZAH, 2009), 118
3 Ibid, 118-120.
4 Nurhakim, Sejarah & Peradaban, 53.
5 Munir, Sejarah Peradaban Islam, 119.
6 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Rajawali Press, 2000),42.
7 Ibid, 43.
8 Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan sejarahnya ed rev (Bandung: Rosdakarya, 2005), 174.
9 Ibid, 175.
10 Munir, Sejarah Peradaban Islam, 123.
11  Munir, Sejarah Peradaban Islam, 123

12  Ibid, 124
13  Yusuf Al-isy, Dinasti Umawiyah ( Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2009), 283

14  Munir, Sejarah Peradaban Islam 125
15  Al- isy, 289
16  Ibid,
17  Al isy, 301
18  Munir, Sejarah Peradaban Islam, 126

19  Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan sejarahnya, 192
20  Munir, Sejarah Peradaban Islam, 127
21  Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan sejarahnya, 195
22 Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan sejarahnya, 196
23 Al- ‘Isy, 346
24 Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan sejarahnya, 196
25 Nurhakim, Sejarah & Peradapan Islam , 54
26 Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 43
27 Nurhakim, Sejarah & Peradapan Islam , 54
28 Ibid, 55
29 Yatim, Sejarah Peradaban Islam 44.
30 Munir, Sejarah Peradaban Islam, 132.
31 Hitti, 301.
32 Munir, Sejarah Peradaban Islam, 133.
33 Ibid. 133-136
34 Philip K Hitti, History of Arabs ed terjemah (Jakarta: Serambi, 2002), 343
35 Ibid, 306
36 Ibid, 308
37 Ibid, 309
38  Ibid,


DAFTAR PUSTAKA


Al-Isy, Yusuf. 2009. Dinasti Umawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kausar

Hitti, Philip K. 2002. History of Arabs ed terjemah. Jakarta: Serambi.

Nurhakim, Moh. 2003. Sejarah & Peradapan Islam. Malang: UMM Press

Munir Amin, Samsul 2009. Sejarah Peradapan Islam. Jakarta: AMZAH

Yatim, Badri. 2000. Sejarah Peradapan Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Rajawali Press

Mahmudunnasir,  Syed.  2005.  Islam  Konsepsi  dan  Sejarahnya  ed  rev.  Bandung:

Rosdakarya

Sejarah Masuknya Islam di Kamboja

Kamboja adalah Negara dengan luas wilayah sebesar 181.055 Km2 dan memiliki jumlah penduduk 11.400.000 jiwa, 6% beragama Islam dan mayoritas beragama Budha serta sebagian kecil lainnya beragama Katholik.

Sejarah Masuknya Islam di Kamboja
Beberapa ahli sejarah beranggapan bahwa Islam sampai di Kamboja pada abad ke-11 Masehi. Nenek moyang Kaum Muslim Kamboja merupakan orang Cham, penduduk asli kerajaan Champa di Vietnam yang menguasai semenanjung Indochina. Ketika kerajaan Campa hancur pada tahun 1470 M, banyak penduduknya hijrah ke negara tetangga termasuk Kamboja, kemudian mereka membuat komunitas dan beranak pinak di Kamboja hingga saat ini.

Muslim Champa diterima dengan baik di Kamboja, beberapa sumber bahkan menyebutkan beberapa petinggi kerajaan Champa yang turut mengungsi kemudian juga mendapatkan jabatan terhormat di kerajaan Kamboja. Selain muslim Champa, Muslim Melayu dari kepulauan Indonesia dan semenanjung Malaysia juga memasuki Kamboja sejak masa kejayaan Champa disekitar abad ke 15 masehi.  Muslim Arab imigran dan Anak Benua India, serta pribumi yang masuk Islam juga menjadi bagian dari komunitas Muslim di Kamboja saat ini.

Mereka membentuk komunitas muslim Kamboja di bawah kendali empat jabatan tokoh masyarakat muslim yang terdiri dari mupti, tuk kalih, raja kalik, dan tvan pake. Sementara tokoh di tiap kampung muslim di kepalai oleh hakim dan beberapa khatib, bilal, dan labi. Keempat jabatan tokoh masyarakat tersebut termasuk Hakim turut menjadi bagian kerajaan Kamboja dan senantiasa turut serta sebagai undangan Negara dalam setiap perhelatan resmi kerajaan.

Sepanjang sejarah Kamboja, kaum Muslim tetap teguh menjaga pola hidup mereka yang khas, karena secara agama dan peradaban mereka berbeda dengan orang-orang Khmer yang beragama Budha. Mereka memiliki adat istiadat, bahasa, makanan dan identitas sendiri.
Populasi Muslim Kamboja

Penduduk muslim di Kamboja pada awal 1970-an berjumlah sekitar 700.000 jiwa. Tetapi pada akhir 1975 muslim di Kamboja jumlahnya menipis. Menurut Po Dharma, jumlah muslim tersisa 150.000 hingga 200.000 jiwa pada tahun tersebut. Penganiayaan di bawah Khmer Merah mengakibatkan jumlah mereka terkikis.

Merujuk kepada situs CIA World Fact Book, tahun 1999 penduduk muslim di Kambojamencapai 2.1% dari total penduduk Negara tersebut. Dan di tahun 2008, diperkirakan Muslim di Kamboja mencapai 321.000 jiwa. Mayoritas Muslim di Kamboja adalah muslim Sunni bermadzhab Syafi’i yang kebanyakan tinggal di provinsi Kampong Cham, provinsi seluas 9.799 km2 dan didiami 1.680.694 jiwa (data tahun 2008). Ada juga tumbuh komunitas muslim Ahmadiyah di Kamboja.

Menurut data Pew Research Center tahun 2009, jumlah Muslim di Kamboja mencapai 236.000 atau 1,6% dari populasi Negara itu. Namun, menurut Ketua Senat Mahasiswa Muslim Kamboja, Sles Alfin (Saleh Arifin), populasi Muslim di negaranya diperkirakan mencapai 5%. Kebanyakan dari mereka ber-etnis Champa dan Melayu yang merupakan etnis minoritas di Kamboja. Sedangkan situs internet voa-islam menyebut angka yang jauh lebih tinggi, menurut mereka muslim Kamboja mencapai 6% dari total 11,4 juta jiwa penduduk Kamboja atau setara dengan 680.000 jiwa.
Masa Kelam (1975-1979)

Ketika kelompok ultra komunis Khmer Merah mengukuhkan kekuasaannya di tahun 1975 mereka mencoret agama dari undang-undang dan melakukan diskriminasi terhadap populasi umat beragama termasuk Muslim. Perang saudara dan kekacauan politik yang terjadi di negara itu, memaksa sebagaian dari kaum muslimin hijrah ke negara tetangga yang lebih aman.
Bagi mereka yang  bertahan di Kamboja, penganiayaan, pembunuhan, dan pengusiran merupakan makanan sehari-hari yang mereka rasakan, saat pemerintahan Khmer Merah berkuasa. Pemerintah Khmer Merah juga menghancurkan masjid, madrasah, mushaf serta melarang kegiatan-kegaiatan keagamaan. Termasuk pelarangan menggunakan bahasa Champa, bahasa kaum muslimin di Kamboja.

Pemerintah Khmer merah melakukan aksi brutalnya, karena paham yang mereka anut berkiblat pada paham komunis garis keras. Paham yang sangat membenci dan tidak mengakui keberadaan agama. Mereka menyiksa siapa saja yang mengadakan kegiatan keagamaan termasuk Islam. Khmer merah telah merusak seluruh instruktur Kamboja, mulai dari  oarng terpelajar dan intelektual  kemudian menyerang bangunan-bangunan serta semua instansi lainya yang di butuhkan bagi kehidupan negeri ini.

Hingga kejatuhannya pada tahun 1979 (yang berarti dalam tempo 4 tahun) Khmer Merah telah membunuh lebih dari 2 juta penduduk Kamboja termasuk di dalamnya kaum Muslimin, sebanyak 500 ribu atau sekitar 70 % dari populasi Muslim di Kamboja mati terbunuh. Lebih dari 300 Guru terlibat dalam pengajaran agama dalam anggota komunitas. Ada beberapa syekh yang terkenal yaitu 9 pemegang Diplomat Al;-Azhar, 5 dari Universitas Islam Madinah yang lainya mendapat pendidikan Universitas Al-Muhammadiyah di Klaten, Malaysia dan ada juga beberapa orang yang dididik, dari kesemuanya ini hanya tersisa 38 orang, yang lainnya telah dibunuh oleh Khmer merah, dan dari lulusan Al-Azhar hanya dua orang yang selamat.

Dalam keadaan yang tertekan  dan tertindas, mulai muncul pemimpin yang sadar akan perlunya pembebasan kaum muslimin di Kamboja salah seorang komunitas muslim yakni, Dr. Abdul Kayun yang memiliki kaum minoritas ini duduk di badan tertinggi, yaitu, Front Persatuan Nasional. Teman seperjuangan al-Taman Ibrahim, Alumni Universitas Al-Azhar Cairo serta Muhammad Wan-wan, yang bertanggung jawab atas urusan agama dan Front Persatuan Nasional itu terus berjuang untuk membebaskan kaum muslimin di sana.

Perkembangan Islam di Kamboja

Kamboja pernah mengalami satu fase yang memainkan sejarah umat Islam, baik menyangkut politik ekonomi dominasi kaum muslim dan perdagangan serta upaya penyiaran Islam yang sangat gencar yang memfasilitasi naiknya pamor kelompok muslim di kerajaan Kamboja. Di Kamboja peranan dan pengaruh kaum muslimin lebih besar karena pada abad sebelumnya, Champa bergabung dengan kerajaan Kamboja dan pernah mendapatkan kesultanan muslim. Penduduk Muslim di Kamboja sebagaimana kaum muslim lainya bersifat kosmopolitan mungkin karena faktor ilmiah yang kemudian menjadikan penguasa Kamboja  masuk Islam di awal abad ke-17.

Setiap tahun beberapa muslim Champa ini berangkat ke Kelantan di Malaysia untuk melanjutkan pendidikan Al-Qur’an. Beberapa diantara mereka setiap tahun juga melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Hingga penghujung tahun 1950-an diperkirakan 7 persen dari Muslim Champa di Kamboja ini telah menunaikan ibadah Haji. Dan dalam kehidupan kesehariannya mereka biasa menggunakan sorban ataupun semacam kopiah berwarna putih sebagai penanda bahwa mereka telah ber-haji.

Masuk Islamnya penguasa Kamboja lebih memperkuat posisi dominasi masyarkata muslim di Kamboja. Namun seperti pengalaman Ayutthaya. Ketidakstabilan hubungan internasional di wilayah ini memperngaruhi posisi masyarakat muslim di Kamboja. Mereka tidak mampu mencapai posisi sebelumnya dan Islam tidak bisa memasuki elite penguasa sebagaimana kerajaan lain di Asia Tenggara. Aspirasi di kalangan Islam Tenggara mengakhiri kekuasaan Islam yang sangat singkat di Kamboja. Nasib umat muslim yang berubah dengan cepat itu merupakan akibat dari serangan gencar yang dilakukan eropa yang kemudian mengakhiri dominasi Islam Asia Tenggara.

Ketika Kamboja Merdeka dari Prancis di tahun 1953, komunitas muslim berada dibawah kendali lima anggota majelis yang berisikan perwakilan dari masing masing komunitas muslim dengan fungsi yang resmi serta keterikatan dengan komunitas muslim yang lain. Masing masing komunitas muslim memiliki seorang Hakim yang memimpin Masjid masing masing komunitas, beliau juga bertindak sebagai Imam di masjid komunitasnya masing masing. Kegiatan ke-Islaman muslim Kamboja berpusat di semenanjung Chrouy Changvar di dekat kota Phnom Penh yang sekaligus menjadi tempat tinggal beberapa petinggi muslim Kamboja.

Sekitar tahun 1962 mereka telah memiliki 100 masjid di Kamboja dan meningkat di tahun 1970-an terdapat 120 masjid, 200 musholla dan 300 madrasah serta satu sekolah penhafal Al’qur’an serta ratusan guru agama dan 300 khatib. Banyak di antara guru-guru tersebut yang belajar di Malaysia dan universitas-universitas Islam di Kairo, India atau Madinah.

Namun karena berkali-kali terjadi peperangan dan kekacauan perpolitikan di Kamboja dalam dekade 1970-an dan 1980-an lalu, banyak masjid, madrasah dan mushaf yang hancur serta banyak umat muslim yang terbunuh. Dalam penghancuran ini umat muslim yang paling menderita.

Setelah runtuhnya pemerintahan Khmer merah tahun 1979, secara umum keadaan penduduk di Kamboja membaik, termasuk kaum muslim. Mereka kembali menata kehidupan dan melaksanakan pembangunan, setelah porak poranda menghadapi kebrutalan pemerintah Khmer merah.

UNICEF pada tahun 1979 telah mengkoordinasikan semua kegiatan PBB yang di tugaskan dengan menugaskan 8 orang pakar. Membantu menghidupkan kembali kegiatan pertanian. Komisi tinggi untuk pengungsi mengarahkan tiga pakar yang bertanggung jawab untuk menerima mendapatkan kembali para pengungsi yang kembali ke negeri tersebut. Dan pemerintah juga berupaya untuk memberikan mereka perwakilan di semua tingkatan.

Saat ini telah di bangun kembali 268 masjid, 200 mushalla, 300 madrasah Islamiyyah dan sebuah aula sebagai tempat penghafalan Al-Qur’an al-Karim. Selain itu mulai bermunculan organisasi-organisasi keislaman, seperti Ikatan Kaum Muslimin Kamboja, Ikatan Pemuda Islam Kamboja, Yayasan Pengembangan Kaum Muslimin Kamboja dan Lembaga Islam Kamboja untuk Pengembangan. Di antara mereka juga ada yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Tidak kurang dari 600 ulama dan guru agama telah terlibat dalam kegiatan keislaman di kalangan masyarakat muslim di Kamboja.

Akan tetapi, program-program mereka ini mengalami kendala finansial yang cukup besar, mereka sangat miskin. Gaji para tenaga pengajar tidak mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Di samping itu sebagian kurikulum pendidikan di beberapa sekolah agama sangat kurang dan tidak baku.

Kaum Muslim Kamboja masih membutuhkan pembangunan beberapa sekolah dan pembuatan kurikulum Islam yang baku, karena selama ini sekolah-sekolah yang berdiri saat ini berjalan berdasarkan ijtihad masing-masing. Setiap sekolah ditangani oleh seorang guru yang membuat kurikulum sendiri yang umumnya masih lemah dan kurang, bahkan ada beberapa sekolah diliburkan lantaran guru-gurunya berpaling mencari pekerjaan lain yang dapat menolong kehidupan mereka. Mereka juga sangat membutuhkan adanya terjemah Al Qur’anul karim dan buku-buku Islami, khususnya yang berkaitan dengan akidah dan hukum-hukum Islam.

Kaum Muslimin Kamboja juga belum memiliki media informasi sebagai ungkapan dari identitas mereka, hal ini dikarenakan kondisi perekonomian mereka yang sulit. Selama ini sebagian besar dari mereka bergantung dari pertanian dan mencari ikan, dua pekerjaan yang akhir-akhir ini sangat berbahaya, karena sering terjadi banjir dan angin topan yang menyebabkan kerugian besar bagi kaum Muslimin dan membawa mereka sampai ke bawah garis kemiskinan.

Kaum Muslimin Kamboja lebih banyak berpusat di kawasan Free Campia bagian utara sekitar 40 % dari penduduknya, Free Ciyang sekitar 20 % dari penduduknya, Kambut sekitar 15 % dari penduduknya dan di Ibu Kota Pnom Penh hidup sekitar 30.000 Muslim.

Saat ini kehidupan beragama terasa sangat damai. Muslim dan non-Muslim hidup berdampingan dengan harmonis. Keberadaan mereka tidak terganggu oleh “racun”, seperti kekerasan terhadap pemerintah, gerakan separatis, dan tumbuhnya radikalisme ,seperti yang dialami di sejumlah negara tetangga. Hubungan mengakar dan sejarah toleransi kuat Kerajaan Budha Kamboja, membuat Muslim di negara kecil itu merasa menjadi bagian dari negara. Bagi kaum muslim, negara Kamboja adalah milik mereka. Meski menjadi minoritas, Muslim di Kamboja mengaku menikmati spirit harmoni dan kosistensi. Di desa dan kota di penjuru Kamboja, Muslim dan non-Muslim memang sudah lama dikenal hidup berdampingan. Itu tak lepas pula dari peranan pemerintah yang berinisiatif  memuluskan toleransi bagi muslim di Kamboja. Dari pihak pemerintah, Perdana Menteri Hun Sen memerintahkan pembangunan masjid dan memberi saluran udara gratis bagi Muslim untuk menyiarkan program-program khusus Islam. Kini, Kamboja mengabadikan kebebasan beragama dalam konstitusi negara mereka.

Selain itu, sejumlah Muslim diberikan kesempatan untuk bekerja di kantor pemerintahan. Hun Sen pun memiliki penasihat sendiri yang khusus mengurusi hubungan pemerintah dengan komunitas Muslim. Beberapa waktu lalu, pemerintah setempat mengijinkan siswa Muslim yang ingin mengenakan atribut Islam termasuk jilbab. Tak hanya itu, Muslim pun menikmati hak-hak politik mereka. Ada lebih dari selusin Muslim yang kini bertugas di lembaga-lembaga politik papan atas negara, mulai dari Senat, Dewan Perwakilan. Senator Premier (salah satu anggota senat) pun memiliki penasihat khusus urusan Muslim. Artinya, keberadaan umat Muslim di Kamboja telah diterima dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Sumber:
http://www.voa-islam.com/news/world-world/2009/12/28/2258/islam-kamboja-berkembang-setelah-ditekan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Kamboja
http://muzakki.com/pengetahuan/dunia-islam/219-islam-kamboja-bertahan-meski-menjadi-minoritas.html
http://www.dakwatuna.com/2013/03/28/30101/kamboja-bangun-sekolah-ilmu-agama-islam/
http://bujangmasjid.blogspot.com/2012/10/islam-dan-masjid-di-kamboja-bagian-1.html
http://emasloemiyono.wordpress.com/tag/kondisi-islam-kamboja/

Sejarah Masuknya Islam Di Brunai Darussalam

Lambang Negara Brunai pada Bendera
Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yang sangat makmur di bagian utara Pulau Borneo/Kalimantan dan berbatasan dengan Malaysia. Brunei terdiri dari dua bagian yang yang dipisahkan di daratan oleh Malaysia. Nama Borneo berdasarkan nama negara ini, sebab pada zaman dahulu kala, negeri ini sangat berkuasa di pulau ini. Secara geografis, Brunei adalah suatu negara di pantai Kalimantan bagian utara, berbatasan dengan laut Cina Selatan, di sebelah utara dan dengan Serawak disebalah selatan barat dan timur. Luas: 5,765 km2, penduduk 267.000 jiwa (1989),kepadatan penduduk 46/km2, agama: Islam( 63,4 %), Budha (14 %), Kristen (9,7%), lain-lain (12,9 %). Bahasa Melayu, Ibu kota: Bandar Seri Begawan, satuan mata uang : Dolar Brunei (BI$) Sebagian besar wilayah Brunei terdiri dari daratan.

Dengan pantai berupa rawa-rawa dengan hutan bakau, tetapi makin jauh kepedalaman tanah makin bukit-bukitdengan ketinggian kurang dari 100 M. Diperbatasan dengan Serawak terdapat daerah berbukit dengan ketinggian diatas 300M.Penduduk Brunei hanya berjumlah 370 ribu orang dengan pendapatan berkapasitas sekitar 23,600 dollar Amerika atau sekitar 225 juta rupiah, Penduduknya 67% beragama Islam, Budha 13%, Kristen 10% dan kepercayaan lainnya sekitar 10%.Islam adalah agama resmi kerajaan Brunei Darusalam yang dipimpin oleh Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah (1967-kini).

Brunei Darussalam merupakan negara kerajaan dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara tersebut terletak di bagian utara Pulau Kalimantan (Borneo) dan berbatasan dengan Malaysia.Berdasarkan data statistik, penduduk Brunei Darusalam hanya berjumlah 370 ribu orang. Sekitar 67 persen dari total populasinya beragama Islam, Buddha 13 persen, Kristen 10 persen, dan kepercayaan lainnya sekitar 10 persen.

Di lihat dari sejarahnya, Brunei adalah salah satu kerajaan tertua di Asia Tenggara. Sebelum abad ke-16, Brunei memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam di Wilayah Kalimantan dan Filipina. Sesudah merdeka di tahun 1984, Brunei kembali menunjukkan usaha serius dalam upaya penyebaran syiar Islam, termasuk dalam suasana politik yang masih baru.

Di antara langkah-langkah yang diambil ialah mendirikan lembaga-lembaga modern yang selaras dengan tuntutan Islam. Sebagai negara yang menganut sistem hukum agama, Brunei Darussalam menerapkan hukum syariah dalam perundangan negara. Untuk mendorong dan menopang kualitas keagamaan masyarakat, didirikan sejumlah pusat kajian Islam serta lembaga keuangan Islam.
Tak hanya dalam negeri, untuk menunjukkan semangat kebersamaan dengan masyarakat Islam dan global, Brunei juga terlibat aktif dalam berbagai forum resmi, baik di dunia Islam maupun internasional.

Perjanjian Perlembagaan Negeri Brunei dengan Inggris
tahun 1959 pada masa Sultan Omar Ali Saifudin.
Sama seperti Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam dengan Mazhab Syafii, di Brunei juga demikian. Konsep akidah yang dipegang adalah Ahlussunnah waljamaah. Bahkan, sejak memproklamasikan diri sebagai negara merdeka, Brunei telah memastikan konsep ”Melayu Islam Beraja” sebagai falsafah negara dengan seorang sultan sebagai kepala negaranya. Saat ini, Brunei Darussalam dipimpin oleh Sultan Hasanal Bolkiah. Dan, Brunei merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara dengan latar belakang sejarah Islam yang gemilang.
Sejarah Masuk Islam di Brunei

Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan baru nah yaitu setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka mereka pun mengucapkan perkataan baru nah yang berarti tempat itu sangat baik, berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan.Kemudian perkataan baru nah itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei .

Diperkirakan Islam di Brunei datang pada tahun 977 melalui jalur Timur Astengoleh pedagang-pedagang dari negeri Cina. Catatan bersejarah yang membuktikan penyebaran Islam di Brunei adalah Batu Tarsilah. Catatan pada batu ini menggunakan bahasa Melayu dan huruf Arab. Dengan penemuan itu,membuktikan adanya pedagang Arab yang datang ke Brunei dan sekitar Borneo untuk menyebarkan dakwah Islam
Berkaitan dengan masuknya Islam di Brunei ditemukan beberapa sumber yang berbeda yaitu :
  1. Dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa Islam mulai diperkenalkan di Brunei  pada tahun 977 melalui jalur timur Asia Tenggara oleh pedagang-pedagang dari negeri Cina. Islam menjadi agama resmi negara semenjak Raja Awang  Alak Betatar masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Shah (1406-1408). Perkembangan Islam semakin maju setelah pusat penyebaran dan kebudayaan Islam Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511) sehingga banyak  ahli agama Islam pindah ke Brunei. Kemajuan dan perkembangan Islam semakin nyata pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, kepulauan Suluk, kepulauan Balabac samapai ke Manila. Masuknya Islam di Brunei didahului oleh tahap perkenalan. Islam masuk secara nyata ketika raja yang berkuasa pada saat itu menyatakan diri masuk Islam, lalu diikuti oleh penduduk  Brunei dan masyarkat luas. Sehingga cukup beralasan jika Islam mengalami perkembangan yang begitu cepat.
  2. Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dikatakan bahwa agama Islam masuk ke Brunei pada abad ke-15. Sejak itu, kerajaan Brunei berubah menjadi kesultanan Islam. Pada abad ke-16 Brunei tergolong kuat di wilayahnya, dan daerah kekuasaannya  meliputi pula beberapa pulau di Filipina selatan. Perubahan nama dari kerajaan menjadi kesultanan memberi informasi bahwa Islam di Brunei mendapat perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Hal ini menjadi salah satu faktor sehingga penganut agama Islam semakin bertambah banyak.
  3. Di sumber lain dikatakan bahwa silsilah kerajaan Brunei didapatkan pada Batu Tarsilah yang menuliskan silsilah raja-raja Brunei yang dimulai dari Awang Alak Batatar, raja yang mula-mula memeluk agama Islam (1368) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19, memerintah antara 1795-1804 dan 1804-1807). Data ini menunjukkan sistim pemerintahan di Brunei adalah kesultanan atau monarki mutlak Islam, dan semuanya sangat memeperhatikan Islam sebagai agama resmi negara.
  4. Menurut Azyumardi Azra bahwa awal masuknya Islam di Brunei yaitu sejak tahun 977 kerajaan Borneo (Brunei) telah mengutus P’u  Ali ke istana Cina. P’u Ali adalah seorang pedagang yang beragama Islam yang nama sebenarnya yaitu  Abu Ali. Pada tahun itu juga diutus lagi tiga duta ke istana Sung, salah seorang di  antara mereka bernama Abu Abdullah. Peran para pedagang muslim dalam penyebaran Islam di Brunei telah terbukti dalam catatan sejarah.
  5. John L. Esposito seorang orientalis yang pruduktif banyak menulis tentang sejarah Islam, menurutnya bahwa Islam pertama kali datang di Brunei pada abad ke-15 dan yang pertama kali memeluk Islam adalah raja Berneo. Pendapat Esposito  ini sejalan dengan pendapat lainnya bahwa pihak raja atau sultan  yang lebih awal menyatakan diri masuk Islam, lalu kemudian diikuti oleh masyarakatnya.

Data dan informasi di atas memberi penegasan bahwa  raja Brunei sejak dahulu  besar perhatiannya terhadap Islam dan dapat diterima oleh  lapisan masyarakat. Mereka dapat menerima Islam dengan baik ditandai dengan sambutan positifnya  terhadap kedatangan pedagang Arab Muslim.  Islam masuk di Brunei melalui suatu proses yang panjang  tidak pernah berhenti. Menurut Ahmad M. Sewang ada suatu proses yang dinamakan adhesi, yaitu proses penyesuaian diri dari kepercayaan lama  kepada kepercayaan baru (Islam). Proses tersebut juga disebut proses islamisasi yang dapat berarti suatu proses yang tidak pernah berhenti.

Kedatangan Islam di Brunei membolehkan rakyat menikmati sistem kehidupan lebih tersusun dan terhindar dari adat yang bertentangan dengan akidah tauhid. Awang Alak Betatar adalah raja Brunei pertama yang memeluk Islam dengan gelar Paduka Seri Sultan Muhammad Shah (sultan ke-1 tahun 1383-1402). Ia dikenal sebagai penggagas kerajaan Islam Brunei. Awang penganut Islam sunni lebih dipecayai dari pada Syarif Ali seorang dai dari alif yang berketurunan ahl al-bait, yang bersambung dengan keluarga Nabi Muhammad saw melalui pjalur cucunya Sayidina Hasan. Syarif Ali dikawinkan dengan putri Sultan Muhammad Shah, setelah itu ia dilantik menjadi raja Brunei atas persetujuan pembesar dan rakyat. Sebagai raja dan ulama, Syarif Ali gigih memperjuangkan Islam dengan membangun masjid dan penerapan hukum Islam. Satu hal yang menarik untuk diketahui bahwa meskipun Syarif Ali berketurunan ahl al-bait, tetapi tidak menjadikan pola pemerintahan yang berdasarkan  pola kepemimpinan Syiah yang dikenal imamah, justru ia melanjutkan konsep kepemimpinan yang sudah ada yaitu sunni.

Raja-raja Brunei sejak dahulu kala secara turun temurun adalah kerajaan Islam dan setiap raja bergelar sultan. Di samping itu, kerajaan Brunei dalam kunstitusinya secara tegas menyatakan  bahwa kerajaan Brunei adalah negara Islam yang beraliran sunni (ahl  al-sunnah wa al-jama‘ah). Islam berkembang di Brunei karena pihak kesultanan menjadikan sunni  sebagai prinsip ketatanegaraan dan pemerintahan dalam Islam. Menurut Hussin Mutalib bahwa pihak Sultan pernah memperingatkan agar hati-hati terhadap Syiah. Aliran Syiah di Brunei tidak mendapat posisi penting untuk berkembang bahkan menjadi ancaman bagi Sultan.

Pada masa Sultan Hassan (sultan ke-9 tahun 1582-1598), dilakukan beberapa hal yang menyangkut tata pemerintahan: 1) menyusun institusi-institusi  pemerintahan agama, karena agama memainkan peranan penting dalam memandu negara Brunei ke arah kesejahtraan, 2) menyusun adat istiadat yang dipakai dalam semua upacara, di samping itu menciptakan atribut kebesaran dan perhiasan raja, 3) menguatkan undang-undang Islam.

Pada tahun 1967, Omar Ali Saifuddin III (sultan ke-28 tahun 1950-1967) telah turun dari tahta dan melantik putra sulungnya Hassanal Bolkiah menjadi sultan Brunei ke-29 (1967-sekarang). Pada tahun 1970, pusat pemerintahan negeri Brunei Town telah diubah namanya menajdi Bandar Seri Begawan untuk mengenang jasa Baginda yang meninggal dunia tahun 1986. Usaha-usaha pengembangan Islam diteruskan oleh Yang Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Wadaulah. Di antara usahanya yaitu pembinaan masjid, pendidikan agama, pembelajaran al-Qur’an dan perundang-undangan Islam.

Setelah Brunei merdeka penuh tanggal 1 Januari 1984, Brunei menjadi sebuah negara Melayu Islam Braja. Melayu diartikan sebagai negara Melayu yang memiliki unsur-unsur kebaikan dan menguntungkan. Islam diartikan sebagai suatu kepercayaan yang dianut negara yang bermazhab ahl al-sunnah wa al-jama‘ah sesuai dengan kontitusi  cita-cita kemerdekaan, sedang Braja diartikan sebagai  suatu sistem tradisi Melayu yang telah lama ada. Penduduk Brunei yang mayoritas Melayu dan penganut agama Islam terbesar di Brunei tentu saja merekalah yang menentukan tatanan negara dengan tetap memperhatikan kemajuan Islam yang berhaluan ahl al-sunnah wa al-jama‘ah dan menjaga kelestarian dan mempertahanakan adat istiadat yang berlaku.

Islam sebagai agama resmi negara Brunei dan agama mayoritas, namun  agama lain tidak dilarang. Kementerian agama Brunei  berperan besar dalam menentukan kebijaksanaan dan aturan bagi penduduknya. Buku-buku keagamaan harus lebih dahulu melalui sensor kementerian itu sebelum boleh beredar di masyarakat. Segala bentuk patung dilarang, walaupun patung Winston Churuchil dibangun di perempatan  utama di ibu kota Bandar Seri Begawan. Hukum Islam berpengaruh besar pada undang-undang di negara itu. Kementerian agama sangat  berhati-hati  terhadap unsur-unsur yang dapat merusak akidah tauhid, sehingga buku pun harus disensor dan tidak lagi diizinkan pembangunan patung yang dianggap juga dapat merusak iman seseorang.

Selain itu, yang perlu juga diketahui bahwa Brunei  sebagai negara Islam di bawah pemimpin sultan ke-29 yaitu Sultan Hassanal Bolkiah. Sultan ini telah banyak melakukan usaha penyempurnaan pemerintahan antara lain dengan melakukan pembentukan majelis Agama Islam atas dasar Undang-Undang Agama dan Mahkamah Kadi. Majelis ini bertugas menasehati Sultan dalam masalah agama Islam. Usaha lain yang dilakukan yaitu  menjadikan Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya idiologi negara. Untuk itu, dibentuklah jabatan Hal Ehwal Agama yang bertugas menyebarkan paham Islam. Untuk kepentingan penelitian  agama Islam, pada tanggal 16 September 1985 didirikan pusat dakwah, yang juga bertujuan melaksanakan program dakwah serta pendidikan kepada pegawai-pegawai agama dan masyarakat luas dan pusat pameran perkembangan dunia Islam. Atas dasar itu,  sehingga secara kuantitas masyarakat Muslim di Brunei semakin hari semakin bertambah banyak.

Brunei sebagai negara yang  berpenduduk mayoritas muslim dan Sultan menjadikan Islam sebagai idiologi negara, telah banyak melakukan aktifitas baik bersifat nasional maupun internasioal. Di bulan Juni 1991, Brunei sebagai tuang rumah penyelenggaraan  Pertemuan  Komite Eksekutif Dewan Dakwah Islam Asia Tenggara dan Pasific, di bulan Oktober 1991, Sultan menghadiri pembukaan  Budaya Islam di Jakarta, di bulan Desember 1991, Sultan menghadiri  pertemuan Organisasi Konfrensi Islam (OKI) yang diselenggarakan di Qatar, di bulan September 1992, didirikan lembaga yang bergerak di bidang finansial yaitu Tabung Amanah Islam Brunei (TAIB), lembaga keuangan ini dikelola secara profesional sesuai dengan prnsip dasar Islam. Data sejarah ini menunjukkan bahwa Sultan memiliki perhatian dan semangat besar untuk mengembangkan Islam dan menyejahtrakan kehidupan umat Islam Brunei.

Untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan umat Islam Brunei, Sultan dalam sambutannya dalam peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. tahun 1991 mengeluarkan dekrit yang isinya melarang organisasi al-Arqam melakukan aktifitas keagamaan. Sultan memerintahkan seluruh jajaran pemerintahannya agar melarang organisasi asing melakukan kegiatan yang dapat mengancam keutuhan dan keharmonisan umat Islam yang selama ini sudah terbina dengan baik. Organsiai al-Arqam dianggap organisai yang akan memeceh belah umat Islam dan berusaha menghilangkan tradisi Melayu di Brunei.

Dalam satu sumber dikatakan bahwa di Brunei seluruh pendidikan rakyat mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi ditanggung oleh negara atau diberikan secara gratis. Perhatian negara terhadap peningkatan sumber daya manusia menjadi prioritas, utamanya pengembangan sumber daya manusia islamik. Salah satu langkah yang ditempuh dalam peningkatan ini yaitu negara mengirim sejumlah kaum muda untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri atas biaya negara, sehingga jumlah siswa yang dikirim setiap tahunnya mencapai angka 2000 orang. Pendidikan gratis di semua tingkatan, menunjukkan bahwa Brunei adalah negara kaya.Meskipun Brunei yang luas wilayahnya tergolong kecil, menempati urutan 148 di dunia (setelah Siprus dan sebelum Trinidad dan Tobago) sebanding dengan luas wilayah kabupaten Aceh Tengah. Anggota ASEAN  ini merupakan salah satu negara makmur di dunia dengan tingkat income percapita masuk 10 besar dunia. Karena itu, sangat beralasan bila agama Islam di negara ini mengalami perkembangan yang cepat dan mempunyai istana besar dan megah. Perdagangannya yang maju antara lain menjadikan negara nomor satu dalam angka “Export per capita”.

Negara yang memiliki motto "Sentiasa membuat kebajikan dengan petunjuk Allah" ini beberapa waktu lalu menjadi sorotan dunia lantaran kebijakan pemerintah Brunei yang memutuskan menggunakan hukum Syari'ah sebagai landasan hukum negara itu.

Brunei pun menjadi negara pertama yang secara resmi mengumandangkan penerapan hukum Islam di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya. Berbicara tentang Brunei Darussalam, walaupun negara ini terbilang negara yang memiliki luas wilayah yang kecil, namun ada beberapa beberapa fakta menarik yang ada di Brunei Darussalam, berikut ini diantaranya:
1. Memiliki Pemimpin yang Unik
Sultan Brunei Darussalam nampaknya memang sangat dicintai oleh rakyatnya. Ini terbukti bahwa di Brunei, foto sang Sultan selalu terpampang di koran, televisi, atau bahkan di restoran-restoran.
Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei ini juga memiliki hobi yang unik seperti mengoleksi mobil-mobil mewah dan klasik. Beberapa mobil yang ia miliki antara lain 160 Proches, 130 Rolls Royces, 360 Ferrari, 170 Jaguar, 180 BMW dan 530 Mercedes Benz.
Selain itu, sang Sultan juga memiliki gelar yang sangat panjang. Gelar yang dimilikinya adalah "Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Muíizzaddin Waddaulah ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar ëAli Saifuddien Saíadul Khairi Waddien, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam",
2. Memiliki Istana yang Sangat Megah
Istana Nurul Iman yang ditempati oleh Sultan Hassanal Bolkiah bisa dibilang sangat megah. Bagaimana tidak, tempat sang sultan tinggal memiliki 28 kubah raksasa yang semuanya dilapisi emas. Istana ini memiliki sekitar 500 kamar dan 257 toilet. Dan konon, bahkan toilet di sini berlapis emas.
Selain itu, Sultan Brunei juga punya hobi memelihara kuda polo. Dia memiliki 200 kuda dan kuda-kuda tersebut tinggal dengan nyaman dengan kandang yang ber-AC. Istana sang sultan dinobatkan sebagai tempat tinggal pemimpin negara yang paling lebar di dunia, ditinjau dari luas lantai bangunannya.
3. Menjadi Salah Satu Negara Terkaya di Dunia
Meski Brunei Darussalam termasuk negara kecil, namun negara ini termasuk negara terkaya di dunia. IMF sebagai organisasi internasional yang bertanggungjawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya memprediksi bahwa suatu saat nanti, Brunei dan Libya akan menjadi dua negara yang tidak memiliki hutang internasional. Dari tahun ke tahun indeks pendapatan Brunei semakin tinggi.
Majalah Forbes juga memberi ranking ke 5 bagi Brunei sebagai negara yang paling kaya akan sumber minyak dan gas dibanding 182 negara lainnya. Negara ini merupakan negara pengekspor minyak terbesar ke sembilan di dunia.
4. Menjunjung Tinggi Sopan Santun
Sebagai negara yang berlandaskan ajaran Islam, Brunei Darussalam sangat menjunjung tinggi sopan santun. Brunei Darussalam memiliki banyak sekali peraturan yang berhubungan dengan kesopanan. Negara ini juga tegas dalam melaksanakan syariat islam. Salah satu peraturannya adalah tidak diperbolehkan menjual atau membeli minuman beralkohol dalam bentuk apapun secara publik. Jika melanggar aturan ini, akan mendapatkan sanksi yang cukup serius.
Selain itu, orang-orang yang bukan muhrim juga tidak boleh bersentuhan, termasuk tidak boleh saling berjabat tangan. Jika Anda menanyakan sebuah arah kepada orang Brunei, maka mereka akan menunjukkan arah dengan menggunakan ibu jari, karena penggunaan telunjuk dianggap tidak sopan.
5. Walau Memiliki Fasilitas Kesehatan yang Baik, namun Warganya Memiliki Masalah Berat Badan
Jaminan kesehatan yang baik dan praktis adalah impian setiap warga negara manapun. Di Brunei, keinginan tersebut telah lama tercapai. Di negara ini, untuk setiap konsultasi ke dokter anda hanya perlu membayar 1 dolar Brunei, atau sekitar sembilan ribu rupiah saja. Sementara obat-obatannya akan diberi gratis. Jika fasilitas kesehatan di Brunei tidak memadai untuk menalangi sebuah penyakit, maka pemerintah Brunei akan membiayai pengobatan rakyatnya ke luar negeri.
Namun ternyata, dibalik jaminan kesehatan yang top itu, Brunei memiliki isu kesehatan yang cukup serius. 7.5 persen dari rakyatnya mengalami kegemukan alias obesitas. Angka tersebut merupakan angka obesitas tertinggi diantara negara-negara ASEAN. Sementara itu 20 persen dari anak usia sekolah di Brunei juga mengalami kegemukan.

Daftar Pustaka
-http://id.scribd.com/doc/47596694/Makalah-Sejarah-Masuknya-Islam-di-Brunei-Darussalam
-http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Brunei
-http://syariahalauddin.wordpress.com/2011/10/17/sejarah-perkembangan-islam-di-brunei/